35.000 Warga Palestina Meninggalkan Gaza Pada 2018 melalui Mesir dan Turki

35.000 Warga Palestina Meninggalkan Gaza Pada 2018 melalui Mesir dan Turki

Sekitar 35.000 warga Palestina meninggalkan Jalur Gaza pada tahun 2018 dan tidak kembali karena krisis keuangan yang melanda wilayah tersebut, sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Minggu (19/05/2019) menyebutkan.

Penyeberangan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir dibuka pada November 2017 untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir. Namun, banyak penduduk – terutama yang muda dan berpendidikan – akhirnya meninggalkan kawasan itu, harian Haaretz melaporkan pada hari Minggu. Mereka kemudian ada yang diselundupkan ke kapal dan dikirim ke Yunani, dari mana mereka melakukan perjalanan ke negara-negara Eropa lainnya – terutama Jerman dan Swedia.

Di antara lusinan migran yang terbunuh bulan lalu ketika sebuah kapal terbalik di pantai Turki terdapat 13 warga Palestina dari Gaza, menurut laporan itu.

Laporan tersebut mengutip data PBB dan organisasi lain untuk menyimpulkan bahwa “perkiraan di Israel” bahwa jumlah mereka yang meninggalkan Gaza dan tidak kembali adalah 35.000 orang.

Gaza telah terpuruk dalam berbagai krisis yang menyebabkan pengangguran Gaza mencapai 70 persen, menurut Bank Dunia. Sebab utamanya adalah blokade atas wilayah itu yang diberlakukan oleh Israel.

Israel mengatakan bahwa blokade diperlukan untuk membatasi impor senjata dan bahan-bahan lain yang bisa digunakan untuk menyerang Israel. Kelompok-kelompok hak asasi manusia berpendapat bahwa langkah-langkah tersebut merupakan hukuman kolektif bagi sekitar dua juta penduduk Gaza.

Source : SPNA

Israel Menggusur 5000 Rumah Warga Palestina Di Al-Quds

Israel Menggusur 5000 Rumah Warga Palestina Di Al-Quds

Pasukan pendudukan Israel dilaporkan telah menghancurkan 5.000 rumah warga Palestina Al-Quds, sejak menduduki kota suci tersebut tahun 1967.

Lembaga Al-Quds Internasional, dalam risetnya berjudul “Israel Berhadapan dengan Hukum’’ yang dilansir, Sabtu (18/05/2019) bahwa Israel berdalih menggusur rumah warga Palestina karena dibangun tanpa izin.

Di saat yang sama Israel juga merampas lebih dari 26% wilayah Al-Quds timur. Wilayah tersebut kemudian dibanguan hunian Israel atau memperluas hunian yang ada.

Israel tercatat telah mendirikan 14 permukiman besar dan ratusan pos-pos permukiman di  Al-Quds timur yang dihuni 220.000 Yahudi.

Israel sengaja melakukan “deportasi masal’’ terhadap puluhan ribu warga Palestina. Selain itu, gerombolan durjana Zionis pada tahun 1948 melakukan pembantaian terhadap rakyat Palestina.

Laporan resmi menyatakan bahwa 100.000 warga Palestina gugur di tangan zionis Israel, 71 tahun sejak sejak tragedi Eksodus Palestina atau Nakbah 1948.

Sebelumnya, Lembaga Statistik Pusat Palestina dalam laporannya jelang peringatan 71 tahun peristiwa Nakba yang bertepatan dengan hari Rabu (15/05/2019) menyatakan bahwa 100.000 warga Palestina gugur di tangan zionis Israel sejak tragedi 1948, Palinfo melaporkan.

Tragedi Eksodus Palestina atau yang dikenal dengan peristiwa Nakba adalah bencana kemanusiaan terbesar di Palestina serta merupakan bagian dari pembersihan etnis.

Sebanyak 800.000 warga Palestina di eksodus dari tanah air menuju Tepi Barat dan Jalur Gaza serta Negara-negara Arab tetangga.

Dalam tragedi tersebut Israel telah menduduki 774 desa dan kota Palestina. 531 diantaranya diratakan dengan tanah. Selain itu 15.000 warga Palestina meninggal dunia dalam 70 pembantaian yang dilakukan para durjana zionis.

Populasi warga Yahudi di Palestina yang sebelumya berjumlah 690.000 tahun 1914 jiwa atau 8% dari jumah populasi di Palestina. Namun setelah peristiwa Nakba jumlah tersebut bertambah pesat akibat dorongan imigrasi ke Palestina dalam masa mandat Britania Raya.

Source : SPNA

Kemenkes Gaza : 272 Gugur Dalam Demonstrasi Great March of Return

Kemenkes Gaza : 272 Gugur Dalam Demonstrasi Great March of Return

Kementerian Kesehatan Gaza melansir laporan tindakan brutal pasukan Israel terhadap demonstran yang berpartisipasi  dalam aksi Great march of Return, di Jalur Gaza bagian timur sejak 30 Maret 2018 hingga 16 April 2019.

Berdasarkan laporan Kemenkes Gaza yang dilansir Qudsnet, Jum’at (26/04/2019), sebanyak 272 warga Palestina  meninggal dunia dan 30398 lainnya luka-luka.

Dari jumlah korban jiwa, 54 diantaranya adalah anak-anak, 6 perempuan, dan 1 lansia.

Sementara itu, 3393 anak- anak terluka dalam demosntrasi tersebut, 1103 perempuan, 104 lansia.

Kemenkes Gaza menambahkan bahwa 551 korban kritis,  9123 luka ringan.

6929 lainnya ditembak peluru tajam, 890 ditembak peluru tajam berlapis karet, 2441 akibat gas air mata, 1606 ledakan gas.

Akibatnya 122 korban terpaksa menjalani amputasi di anggota tubuh bagian bawah, 14 diamputasi di bagian atas.

3635 korban berasal dari Jalur Gaza bagian utara, 5492 dari Gaza pusat, 2609 Gaza bagian tengah, 3200 Khan Younis, 1864 lainnya dari Rafah.

Selain itu pasukan IDF juga menyerang tim medis yang bertugas menyelamatkan demonstran. 677 luka-luka dan 3 meninggal dunia, mereka adalah Musa Abu Hasanin, Razan al-Najar, dan Abdullah al-Qatati.

Selain paramedis, 362  awak media juga luka –luka dan 2 merenggang nyawa saat melakukan tugas di perbatasan Gaza. Mereka adalah Yasir Murtaja, dan Ahmad Abu Husein.

Jalur Gaza adalah wilayah selatan Palestina yang terisoliasi akibat blokade Israel selama lebih dari 12 tahun dimana blokade berhasil melumpuhkan seluruh lini kehidupan Gaza.

Sejak pemerintah Israel mengisolasi Gaza, tingkat kemiskinan Gaza bertambah pesat. Tercatat 53% warga Gaza hidup di bawah garis kemiskinan. Gaza juga menghadapi krisis listrik, air dan pencemaran.

Melihat situasi Gaza yang carut marut akibat blokade, Sekjen PBB, Antonio Guterres tahun 2018 lalu telah memperingatkan bahwa wilayah yang memiliki luas 365 persegi tersebut akan menjadi wilayah tak layak huni pada tahun 2020 mendatang.

Profesor Hubungan Internasional Universitas Oxford, Avi Shlaim juga mengatakan bahwa Israel telah mengubah Jalur Gaza menjadi penjara terbesar di dunia.

Situasi sulit ini memaksa warga Palestina untuk berdemo menyurakan penderitaan mereka dalam aksi yang dikenal dengan “Great March of Return”. Aksi ini telah dimulai sejak 30 Maret 2018 lalu da masih berlangsung hingga hari ini dan akan terus berlanjut sampai Israel memenuhi tuntutan rakyat Palestina.

Source : SPNA

Israel Memberikan Denda Berat Pada Tahanan Anak Palestina

Israel Memberikan Denda Berat Pada Tahanan Anak Palestina

Pusat Studi Tahanan Palestina melaporkan bahwa pengadilan militer Israel telah mengenakan denda, terhadap tahanan anak Palestina, berjumlah 170.000 NIS selama kuartal pertama tahun ini.

Juru lembaga itu, Reyad Al-Ashqar, mengatakan bahwa pengadilan Israel memberlakukan denda besar pada sebagian besar anak-anak yang ditahan, ditambah hukuman penjara yang sebenarnya.

Ia menambahkan bahwa denda merupakan beban berat bagi keluarga tahanan dan hukuman sewenang-wenang yang dilakukan oleh pengadilan pendudukan terhadap mereka, dengan tujuan meneror dan mencegah mereka berpartisipasi dalam aksi perlawanan.

Ia menjelaskan bahwa jumlah total denda yang dikenakan penjara Ofra terhadap tahanan anak, selama tiga bulan pertama tahun ini, menambahkan hingga 170.000 NIS.

Al-Ashqar mencatat bahwa kebijakan ini adalah pencurian yang jelas dan politis yang bertujuan menjarah uang dari keluarga anak-anak, untuk menekan dan memeras mereka.

Ia menunjukkan, menurut Al Ray Palestinian Media Agency, bahwa pengadilan militer Israel mengenakan denda berat karena alasan sepele.

Al-Ashqar meminta lembaga-lembaga hak asasi manusia untuk campur tangan dalam melindungi tahanan anak dari pelanggaran Israel.

Source : SPNA

Israel Mengisolasi 5 Desa Dan Menyita 51.000 Dunam Tanah Palestina

Israel Mengisolasi 5 Desa Dan Menyita 51.000 Dunam Tanah Palestina

Lima desa Palestina di Lembah Yordania diisolasi dan 51.000 dunam (12.600 hektar) tanah milik warga Palestina disita oleh otoritas pendudukan Israel pada hari Selasa (16/04/2019), Maan News melaporkan.

Pejabat Otoritas Palestina (PA) Mutaz Bisharat, mengatakan kepada Voice of Palestine bahwa otoritas pendudukan Israel mengambil kendali atas mata air, peralatan pertanian, dan panel surya, yang semuanya milik warga Palestina.

Lembah Yordania merupakan sepertiga dari Tepi Barat yang diduduki, yang sekarang 88% di bawah komando militer Israel. Bisharat menyatakan bahwa dengan mengisolasi desa-desa di distrik Tubas, dan menolak akses warga Palestina ke rumah mereka, pihak berwenang Israel mengungkap niat mereka untuk mengusir semua warga Palestina dari Lembah Yordania.

Organisasi Hak Asasi Manusia menafsirkan serangan Israel yang berlarut-larut terhadap warga sipil Lembah Yordania sebagai pelanggaran hukum kemanusiaan internasional, terlepas dari apapun caranya, baik dengan pemindahan, melalui penyitaan, pembongkaran rumah, dan penggusuran.

Menurut Statuta Roma dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC);Pasal 8 (2)(a)(vii) Statuta Roma menyatakan; “Deportasi atau pemindahan yang melanggar hukum atau pengurungan yang melanggar hukum” adalah kejahatan perang.

Pasal 7 (1)(d) Statuta Roma menyatakan; “Deportasi atau pemindahan paksa penduduk” adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sekitar 550, 000 pemukim Israel tinggal di Tepi Barat yang diduduki, dengan pelanggaran langsung terhadap Konvensi Jenewa ke-4, sementara penduduk asli Palestina terusir.

Source : SPNA

126 Pelanggaran Hukum Terhadap Wartawan Palestina Dilakukan Israel Di Tahun 2019

126 Pelanggaran Hukum Terhadap Wartawan Palestina Dilakukan Israel Di Tahun 2019

Kementerian Informasi Palestina melaporkan bahwa Pasukan Pendudukan Israel (IDF) melakukan 126 pelanggaran hukum terhadap jurnalis Palestina di awal 2019.

Berdasarkan keterangan Kementerian Informasi Palestina yang dilansir Kamis (11/04/2019), sebanyak 70 jurnalis laki-laki dan 6 wanita menjadi korban tindak kekerasan Israel.

“Sebagian darimereka dilempar ke sel tahanan, Mereka diinterogasi serta dilarang meliput berita. Mereka juga menjadi sasaran peluru karet dan  gas beracun saat melakukan tugas dilapangan. “

22 jurnalis cedera akibat gas, 19 dipukul, 7 ditembak dengan peluru karet, dan 17 lainnya dijebloskan ke jeruji besi.

Selain itu,  4 awak media lainnya ditembak dengan peluru panas dan 3 dideportasi.Israel juga menyerbu sebagian rumah wartawan dan menghapus akun jejaring sosial mereka, sepert dilansir Palinfo.

Source : SPNA

Israel Menggunakan Gas “Mematikan” Saat Menghadapi Demonstran Palestina

Israel Menggunakan Gas “Mematikan” Saat Menghadapi Demonstran Palestina

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan bahwa tingkat cedera mereka yang tiba di rumah sakit selama Great March of Return menunjukkan adanya niat sengaja penjajah Zionis Israel untuk melakukan pembunuhan dan mutilasi.

Ashraf Al-Qudra, juru bicara kementerian, menambahkan, “Penggunaan kekuatan mematikan pasukan penjajah Zionis Israel terhadap warga sipil di timur Jalur Gaza telah mengakibatkan meninggalnya 271 warga Palestina dan melukai 16.500 lainnya.”

Al-Qudra mengungkapkan bahwa penjajah Zionis Israel telah menggunakan berbagai jenis peluru, selain bom gas yang tidak dikenal dan tidak memiliki kode yang menyebabkan dampak kesehatan bagi mereka yang terluka.

Al-Qudra menekankan bahwa penjajah Zionis Israel telah mengembangkan metode represif menggunakan bom logam dan gas air mata sebagai alat untuk membunuh dan melukai, yang mengakibatkan kematian enam warga, termasuk empat anak, serta puluhan orang lainnya cedera.

Kementerian Kesehatan meminta otoritas terkait untuk memantau pelanggaran penjajah Zionis Israel dan penggunaan alat mematikan dari karakteristik standar mereka.

Sejak 30 Maret 2018, warga Palestina telah berpartisipasi dalam pawai damai di dekat pagar yang memisahkan Jalur Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki pada tahun 1948 untuk menuntut hak kembalinya para pengungsi ke kota-kota dan desa-desa tempat mereka mengungsi pada tahun 1948, dan pencabutan pengepungan yang diberlakukan terhadap Gaza oleh Israel.

Source : SPNA

LSM Medis Internasional Menggambarkan Kekerasan Israel Terhadap Demonstran Palestins

LSM Medis Internasional Menggambarkan Kekerasan Israel Terhadap Demonstran Palestins

Sebuah badan amal medis internasional menggambarkan kekerasan yang terjadi terhadap para demonstran Palestina di Jalur Gaza yang diduduki oleh tentara Israel sebagai “hal yang tak terbayangkan”.

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada hari Kamis (04/04/2019), manajer komunikasi lapangan Médecins Sans Frontières (MSF) di Yerusalem, Jacob Burns, menggambarkan pekerjaan petugas medis organisasi di Gaza, ketika para profesional kesehatan berjuang untuk menangani korban dari protes Great March of Return .

“Apa yang tidak dapat dibayangkan di tempat lain telah menjadi hal yang biasa di sini, di Gaza,” tulis Burns, merefleksikan peristiwa 30 Maret, ketika protes satu tahun peringatan Great March of Return.

“Suatu hari di mana empat orang terbunuh dan 64 ditembak dengan tembakan langsung adalah satu di mana kami merasa hampir bahagia karena jumlah korban bukan dua atau tiga ratus – atau bahkan lebih – kami khawatir itu akan terjadi,” tambahnya.

“Kami harus berjuang melawan rasa “biasa” ini. Bukanlah hal yang biasa melihat begitu banyak anak muda tiba di rumah sakit dengan peluru di kaki mereka,” Burns menulis.

“Bukanlah hal yang biasa bagi ahli bedah kami untuk menangani seorang pria berusia 25 tahun yang membutuhkan semua darahnya diganti karena sebutir peluru merobek arteri utama dan vena utama di dadanya. Bukanlah hal yang biasa bagi mereka untuk mengeluarkan ginjal seorang anak laki-laki karena mencoba menyelamatkannya… . ”

Ia melanjutkan, “Bukanlah hal yang biasa bagi dokter gawat darurat kami untuk mendengarkan paru-paru seorang pasien, yang dipukul di tenggorokan dengan  tabung gas air mata, penuh dengan darah. Bukanlah hal yang biasa bagi kami untuk mengizinkan seorang pasien keluar dari dari klinik kami, dan kemudian menerimanya kembali ketika ia ditembak lagi, hanya untuk menerima kabar dari keluarganya bahwa ia kembali ke pagar perbatasan lagi dan kemudian terbunuh.”

Pejabat MSF mencatat bahwa Gaza akan “melayang keluar dari berita utama”, tetapi populasinya akan “terus menderita” dari “perekonomian yang terus terpuruk, sistem kesehatan yang semuanya hancur oleh blokade Israel dan pertikaian politik Palestina.”

“Kami di MSF akan kembali ke kegiatan biasa kami minggu ini, bekerja di klinik dan rumah sakit kami di seluruh Gaza. Kami akan menerima lebih banyak pasien dengan luka tembak dan terus merawat hampir 1.000 orang yang masih ada di daftar kami,” ia menyimpulkan,” sebagai pengingat atas penderitaan yang telah dilalui Gaza selama setahun terakhir.”

Source : SPNA

Netanyahu : Membunuh 300 Pemrotes Gaza Adalah Keputusan Yang ‘Bijaksana’

Netanyahu : Membunuh 300 Pemrotes Gaza Adalah Keputusan Yang ‘Bijaksana’

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel menggunakan kekuatan “dengan bijak” di Jalur Gaza, ketika tentara Israel membunuh “lebih dari 300″ warga Palestina di dekat pagar timur Gaza yang dikepung.

Dalam sebuah wawancara dengan Israel Hayom, Netanyahu mengatakan, “Lebih dari 300 warga Palestina terbunuh di dekat perbatasan ketika mereka mencoba untuk menembus pagar dan menculik tentara kami. Kami telah menggunakan kekuatan dengan bijaksana, dan dengan kuat.”

Netanyahu juga mengatakan bahwa kebijakan pemerintahnya membuat Hamas, penguasa Jalur yang dikepung, menderita krisis ekonomi terparah.” Mereka (warga Gaza) berada dalam kesulitan ekonomi yang sangat besar, dan Hamas berada dalam kendali dan menginginkan ketenangan sehingga dapat menghadapi tekanan besar di Gaza,” katanya.

Ia menambahkan, “Kesulitan ekonomi adalah masalahnya sendiri, tetapi kesulitan kemanusiaan adalah masalah kami. Masalah dengan sanitasi, penyakit, hal-hal yang bisa membuat jalan mereka kepada kami. Jadi kami katakan, ‘Mencegah terjadinya masalah dan membuat pencegahan. Tujuannya adalah pencegahan, tetapi juga mencegah masalah lingkungan dan kemanusiaan yang dapat membahayakan Israel.'”

Ditanya bagaimana “urusan” dengan Gaza, Netanyahu menjawab, “Pilihan sebenarnya adalah untuk menduduki dan memerintah Gaza. Anda tidak memiliki siapa pun untuk diberikan. Saya tidak akan memberikannya kepada Presiden Abu Mazen (Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas).”

“Hubungan antara Gaza dan Tepi Barat yang diduduki telah terputus. Mereka adalah dua entitas yang terpisah, dan saya pikir dalam jangka panjang, itu bukan sesuatu yang buruk bagi Israel,” tambahnya.

“Abu Mazen membawanya sendiri. Dia mengurangi masuknya dana PA (ke Gaza). Dia berpikir bahwa dengan melakukan itu, dia dapat mengirim Gaza terbakar. Kami akan membayar untuk pendudukan Gaza dengan kehilangan banyak nyawa, dan di Israel kembali ia (Abbas) akan mendapatkan Gaza di piring perak. Itu tidak akan terjadi.”

Ia melanjutkan, “Uang yang dia potong adalah uang Palestina. Israel tidak membayar. Uang itu ditutupi oleh Qatar dan menghentikan rencana Abu Mazen membuahkan hasil, serta memutus Gaza dari (Tepi Barat).”

“Jika ada yang mengira akan ada negara Palestina yang akan mengelilingi kita di kedua sisi. Itu bukan sesuatu yang akan terjadi.”

Mengenai hubungan Israel dengan Presiden AS Donald Trump dan apa yang disebutnya “kesepakatan abad ini”, ia berkata, “Saya tidak berkoordinasi dengannya. Saya menetapkan tiga prinsip dasar untuknya dan rakyatnya. Saya sangat berharap dalam rencana itu akan dinyatakan: 1) Kami tidak akan mengevakuasi seorang pemukim tunggal. Bukan hanya pemukiman apa pun, tidak satu pun pemukim; 2) Kami akan mempertahankan kendali atas seluruh wilayah barat Sungai Yordan. Kami akan memiliki kehadiran permanen. Itulah otoritas utama yang akan kami pertahankan dalam situasi apa pun; dan 3) Kami tidak akan membagi Yerusalem.”

Netanyahu juga mengungkapkan apa yang terjadi ketika ia mempresentasikan prinsip-prinsipnya kepada para pejabat AS. “Ketika saya mempresentasikan prinsip-prinsip ini kepada (mantan) Wakil Presiden (Joe) Biden ketika dia ada di sini, dia memberi tahu saya, itu bukan negara. Saya berkata, ‘Joe, jelaskan sesuka Anda, ini adalah persyaratan saya dan saya tidak akan mundur dari mereka.’ Itulah yang saya katakan kepada Trump dan perwakilannya Jared Kushner dan Jason Greenblatt.”

Dia juga berjanji bahwa dia tidak akan menghapus pemukim ilegal dari Tepi Barat yang diduduki. “Saya tidak mau mencabut orang Yahudi. Itu termasuk permukiman di luar blok besar.”

Ketika ditanya apakah dia akan mencaplok wilayah C di Tepi Barat yang diduduki, yang berjumlah sekitar 60 persen dari wilayah itu, dia menjawab, “Saya berjanji kepada Anda akan ada kejutan. Saya tidak bisa memberi tahu Anda apa pun tentang rencana itu, tetapi Presiden Trump adalah teman yang hebat, dan saya ragu kita akan memiliki yang lebih baik di masa depan.”

Source : SPNA

Otoritas Israel Berencana Menggusur 65,000 Warga Badui Palestina

Otoritas Israel Berencana Menggusur 65,000 Warga Badui Palestina

Pemerintah Israel, Selasa (02/04/2019), mengumumkan rencana yang bisa menyebabkan puluhan ribu warga Badui Palestina mengungsi dari komunitas mereka, dengan dalih pembangunan.

Menurut media Israel Arutz Sheva, rencana yang diungkapkan oleh otoritas Israel yang menangani warga Badui, rencana ini bertujuan untuk “mengatur” situasi sekitar 125.000 warga Badui di Negev, yang saat ini tinggal di rumah-rumah atau seluruh komunitas yang dianggap ilegal atau “tidak dikenal” oleh otoritas tersebut.

Warga Palestina Badui telah menghadapi diskriminasi sistematis sejak berdirinya Israel , termasuk pemindahan massal, segregasi, perampasan tanah, dan kurangnya investasi.

Rencana baru ini dilaporkan akan menggambar ulang batas-batas kota-kota resmi yang ada. Dengan demikian, akan menurunkan legalitas rumah-rumah puluhan ribu warga Badui.

Namun, sekitar 65.000 penduduk yang disebut komunitas “tidak dikenal” akan “dipindahkan” ke kota-kota, di mana mereka akan menerima plot perumahan dan kompensasi.

Anggaran untuk rencana tersebut dikatakan sekitar sembilan miliar shekel ($ 2,5 miliar), termasuk pembangunan 150.000 unit rumah – meskipun hanya 40.000 unit akan dialokasikan pada tahun 2021.

Pemerintah Israel telah lama berupaya untuk memusatkan populasi Badui ke sejumlah kota resmi, komunitas yang secara konsisten berada di antara yang termiskin di negara itu.

 

Source : SPNA

Kantor Syam Organizer di Kota Anda :

Medan | Batam | Pekanbaru | 

Jabodetabek | Banten |

Bandung | Cilacap | Banyumas |

Magelang | Semarang |

 Yogyakarta | Solo | Kudus |

Pacitan | Maluku | Berau |

 Poso | Palu | Makassar |

Balikpapan | Pontianak |

 NTB | Padang |

Copyright © 2018 Syam Organizer – All right reserved